Monday, May 17, 2010

Ke Singapore bersama CAMS dan HELLOFEST

Setelah kemenangan di Hellofest 6/2009, Saya pun mendapat kesempatan pergi ke Singapore. Memang tidak terlalu jauh dari Indonesia, tapi ini adalah kesempatan pertama kali saya ke luar negeri. Tidak bisa dipungkiri, menginjakkan kaki di tanah negeri orang adalah suatu kebanggaan karena tidak semua orang punya kesempatan itu. Terlebih untuk orang-orang yang berlatar belakang seperti saya, cah ndeso. yah meskipun Singapore sangat dekat dengan perbatasan negara kita tapi tetep aja namanya luar negeri, KTP-nya beda hehe

Persiapan untuk perjalanan ke luar negeri dimulai dengan mengurus surat-surat seperti paspor, maklum ini perjalanan pertama saya dan saya tidak punya paspor. Mengurus paspor sebenarnya sangat mudah, asalkan syarat-syaratnya lengkap dan kita mau antri. Syarat-syaratnya cukup gampang, antara lain, KTP, NPWP, AKTA Kelahiran dan Surat rekomendasi dari perusahaan tempat kita bekerja atau pihak terkait. Saya heran dengan orang-orang yang masih memanfaatkan calo untuk menguruskan paspor. Memang kita jadi tidak repot tapi biayanya menjadi 2 kali lipat. Sebenarnya di kantor imigrasi sudah terpampang berbagai info lengkap, mulai dari syarat-syarat kelengkapan surat, alur pemohon paspor dan tarif jenis-jenis surat ijin imigrasi. Jadi seharusnya kita bisa dengan mudah dan tertib dalam mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan peraturan pemerintah. Tapi entah mengapa, munkin juga karena budaya yang berkembang dimasyarakat kita yang membuat kita sendiri menjadi tidak tertib.
Kurang lebih dalam waktu satu minggu Paspor sudah saya dapatkan. Saya kemudian bergegas mengirimkan surat2 kelengkapan saya melalui email. Mengingat panitia ICI 2009 meminta kepada seluruh peserta untuk segera mengirimkan data yang mereka butuhkan. Untuk persiapan ke Singapore.

Indonesia Creative Icon
ICI 2009 adalah kependekan dari Indonesia Creative Icon sebuah acara kompetisi berbasis kreatifitas yang di adakan oleh lembaga distribusi animasi, CAM solution. Acara ini terdiri dari banyak kategori, mereka menyebutnya dengan spectrum, antara lain: Film Animasi, komik, Dance, craft dan music. ICI menjaring peserta dari seluruh nusantara. Mereka para finalis telah melalui tahap seleksi yang panjang. ICI ini diselenggarakan atas kerjasama dari CAMS Solution, pemerinah Indonesia dan pihak Singapore. Para pemenang ajang ICI akan mendapatkan kesempatan ke Singapore selama 3 hari system homestay, jadi mereka nanti akan tinggal bersama orang tua angkat di Singapore.
CAM solution juga merupakan sponsor dari acara Hellofest 2009 oleh karena itu saya sebagai pemenang mendapatkan kesempatan ke Singapore bersama para pemenang ICI 2009.
19 januari 2010 sore hari, saya terpaksa ijin tidak masuk kerja karena harus ke Jakarta berkumpul dengan para peserta ICI untuk persiapan ke Singapore. Seperti biasanya saya naik kereta api Ke Jakarta dan keesokan harinya di stasiun Gambir, sudah ada Boyo Digdoyo aka. Gunawan menjemput saya dan mengantarkan ke lokasi acaranya di gatot Subroto. Kami sempat berphoto ria di sekitar Monas yang kebetulan lokasinya bersebelahan dengan Gambir dan selanjutnya menuju lokasi ICI. Setelah mengantar saya, Gunawan langsung pamit, karena dia banyak urusan. Gunawan memang telah pindah dari Semarang untuk membangun usaha yang sama di Jakarta, desain interior. Kami berencana akan dubbing episode Grammar Suro Boyo selanjutnya di Jakarta.
Jiwa petualangan dan keberanian Gunawan mengambil resiko dalam membuka usaha telah menuntunnya ke Ibukota. Meski usahanya masih kecil, tapi dia hebat sudah hamper satu tahun dia bertahan dan dia kini memiliki lebih dari lima karyawan. Sebagai sahabat, saya dan Suro Sudiro aka Ari Dwi, tahu benar bagaimana Gunawan membangun usaha jatuh bangun. Kami pun selalu mendukungnya semampu kami jika dia membutuhkan kami. Semoga cita-citamu tercapai Gun, SUKSES UNTUK KITA SEMUA.. Amin.


20 januari 2010 adalah hari awarding bagi para finalis ICI 2009. Acara demi acara telah berlalu hingga malam harinya pemenang pun ditentukan. Dan tanggal 21 Januari 2010 panitia telah menyiapan rangkaian acara. Meski ada yang kalah, mereka semua tetap tampak gembira. Panitia telah menyiapkan acara untuk mereka semua para finalis. Mereka yang tidak bisa ke Singapore bisa jalan kelliling Jakarta, TMII, ANCOL, Pabrik Sosro, Musium Fatahilah dan lain-lain.



Para finalis ini berumur sekitas 18- 20 tahun mereka pun tampak antusias, meski saya sedikit tidak nyaman, terus terang saya meresa tidak nyaman dengan format acara. Namun saya tetap berusaha mengikuti rangkaian acara ini mulai awal sampai akhir. Untunglah ada kunjungan Sosro yang menurut saya menarik karena sesuai dengan bidang pekerjaan saya, Desain komunikasi Visual. Di pabrik Sosro ini saya menjadi tahu sejarahnya dan bagaimana sebuah brand yang awalnya kecil bisa sangat berkembang menjadi besar. Sosro saat ini bahkan telah menjadi salah satu minuman alternative di luar negeri.

BERANGKAT
21 Januari pukul 05:00 pagi kami telah bersiap-siap untuk menuju bandara. Maklum pesawat kami take off jam 07:00. Setelah semua siap kami pun berangkat menuju Bandara.



Sesampainya dibandara kami mulai mengisi surat2 imigrasi dan boarding pass. Sesuai jadwal pesawat pun take off jam 07:00wib. Saya sudah tidak sabar, untuk menginjakkan kaki di Singapore. Perjalanan kami kurang lebih satu jam. Namun karena perbedaan waktu selisih satu jam lebih cepat maka kami pun sampai di Singapore pada jam 09:00 waktu Singapore.


SINGAPORE , Negeri dengan Keindahan Buatan

Changi Airport, adalah bandara internasional Singapore lokasi kami mendarat. Setelah mendarat dan masuk bandara, saya bergegas ke toilet, maklum kebelet pipis hehe.. dan toiletnya udah keliatan beda. Bersih dan rapi.

Saya melihat HP saya dan otomatis welcome to Changi Airport, disini otomatis roaming. Saya sempat kaget ketika teman kantor saya tiba-tiba menelpon dan pulsa saya otomatis abis ke potong. Jadi kalau tidak bener-bener penting ya ga telpon atau sms, per smsnya kena 1 dolar Singapore Rp.6000-Rp.7000. Memang kalau tidak bener-bener kaya jadi susah ke luar negeri hehe. Oiya di bandara Changi jangan sembarangan mengambil gambar atau berphoto. Soalnya sempat kejadian salah satu peserta yang ditegur petugas untuk menghapus hasil photonya. Untung camearanya tidak di sita.

Di bandara sudah ada panitia dari Singapore yang menyambut. Kami pun kemudian naik bus yang telah disediakan kemudian panitia membagikan uang saku $100 Singapore atau senilai Rp.600-700 ribu. Sangat kurang sebenarnya tapi Lumayan daripada tidak hehe.
Didalam bus satu persatu panitia memperkenalkan diri. Dalam bus juga ramai bermacam permainan sampai ada yang menyanyi, kebetulan lagu-lagu dari band Indonesia yang beraliran melayu sangat ngetop diSingapore. Mulai dari wali sampai St12. Di Singapore konser tunggal wali sangat ramai dan meriah loh. Masyrakat Singapore berduyun datang berdesak-desakan bahkan merchandise bertema band tersebut laris manis. Makanya sepanjang jalan panitia sangat pengen peserta ICI terutama dari kategori music menyanyikan lagu wali, cari jodoh.

NEW WATER
Kunjungan pertama adalah New Water. Sebuah pabrik air terbesar di Singapore. Karena Singapore adalah Negara yang tidak memiliki wilayah yang luas. Sumber airnya tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

Menurut petugas di New Water, kebutuhan air Singapore mencapai 600 kolam renang olimpiade per hari. Singapore mendapat supply air dari 4 jenis sumber antara lain: 1. Sumber dari dalam tanah Singapore, 2. Mengolah air laut menjadi air tawar, 3.Import air dari Negara tetangga yaitu Malaysia dan 4. Air daur ulang dari masyarakat Singapore yang diolah di New Water. Sampai segitunya ya, Seharusnya kita bersyukur karena Negara kita memiliki sumber air yang sangat besar. Kalo semua warga Indonesia tahu tentang air Singapore dan tentunya dengan kesadaran yang tinggi, saya yakin kita akan lebih bisa menghargai setitik air dan memanfaatkannya lebih baik.

Di New Water tersedia bermacam alat untuk mengolah atau mendaur ulang air. Semua air yang telah di pakai oleh masyarakat Singapore akan masuk New Water untuk di daur ulang menjadi air bersih siap pakai. Bahkan air dari New water bisa langsung diminum. Tapi kalau mau meminumnya jangan bayangin asalnya ya hehe jangan kuatir airnya bersih sudah melalui proses new water dan aman diminum. Insya 4WI hehe..



NGE ANN Polytechnic
NGE ANN adalah sebuah kampus yang memiliki tiga jurusan yaitu Financial Information, Information Technology, dan Multimedia & Animation. Karena keterbatasan waktu kami hanya mengunjungi Jurusan Multimedia & Animation. Di Nge Ann sangat lengkap peralatan dan studionya. Bahkan tersedia studio music yang khusus menggarap ilustrasi film animasi.





Di Nge Ann banyak mahasiswa dan dosen yang berasal dari berbagai bangsa termasuk Indonesia. Pendidikannya mulai dari satu tahun (D1) sampai tiga tahun (D3) yang terdiri dari 2D animation, 3D Animation, Drawing, Digital Photography, Digital Audio Design, Digital Effect, Cinematography dan banyak lagi.
Setelah Keliling kampus kami pun makan siang di kantin, namanya Makan Place. Disini harga makanan minimal $ 1,5 sedangkan minuman mulai 50 cent. Saya pikir harga ini sudah termasuk mahal, tapi ternyata tidak karena diluar justru harga makanan bisa mencapai minimal $ 5 sedangkan air mineral botol ukuran 600ml seharga $ 1,2 . Ternyata di Singapore berlaku juga harga mahasiswa.





Makanan dan minumannya mirip Indonesia tapi hati-hati untuk seorang muslim, karena disini tidak semua makanan berlabel halal. Kebanyakan orang indonesia yang ke Singapore mencari cara yang gampang yaitu mencari stand yang menjual Indonesian food .

SCIENCE CENTRE SINGAPORE
Pukul 3 sore kami sudah berada di Science Centre, yaitu tempat wisata semacam musium yang berisi tentang hal-hal yang berkaitan Ilmu Pengetahuan Alam. Didepan pintu masuknya ada patung robot T-rex yang bisa bergerak dan bersuara Wrrrraaggg!! *ndeso mode on fire*

Di Science Centre terdapat banyak benda2 peraga dan benda unik yang dibuat dari hasil penerapan Ilmu pengetahuan. Mulai dari ilmu-ilmu fisika, biologi dan kimia. Kita bisa tahu macam2 virus penyakit sampai proses terbentuknya tsunami dan kekuatannya. Banyak banget yang bisa kita liat. Kalau dibandingkan dengan di Indonesia, kira2 sama dengan museum Iptek di Taman Mini Indonesia Indah tapi agak lebih bagus dikit hehe.



Dimulai dari halaman depan sudah sarat dengan permainan2 yang bernuansa science, mulai dari jam surya, dasar2 telepon, kekuatan air, gaya gravitasi, optik, wah pokoknya lengkap deh, karena berada di halaman, maka permainan ini semuanya gratis. Tapi ternyata di dalamnya menawarkan permainan yang lebih menarik lagi, walaupun Anda harus membeli tiket masuk tambahan. Ada beberapa arena yaitu : Science Center, teater Imax, dan Snow City. Harga tiket masuk untuk Science Center itu sendiri adalah $6 untuk dewasa dan $3 untuk anak2, sedangkan untuk Snow City adalah $12 untuk dewasa maupun anak2 selama 1 jam(ada tambahan sewa sarung tangan jika Anda membutuhkan), sedangkan untuk teater Imax $10 untuk dewasa dan $5 untuk anak2. Saran saya cek apakah ada paket, biasanya ditawarkan paket untuk ketiga wahana tersebut, dan totalnya jauh lebih murah. Dan ketiga2nya recommend untuk dikunjungi terutama Science Center dan Snow City.


Menuju Meet Point bertemu dengan Orang tua Angkat
Sebenarnya tujuan kami selanjutnya adalah ke Merlion tapi karena waktu sudah mulai beranjak sore kami pun menuju ke Meet Point untuk bertemu dengan Orang tua Angkat. Saya kurang tahu nama tempatnya tapi yang jelas dekat dengan bandara.




Orang tua kami telah diatur semuanya muslim sehingga kami tak perlu takut soal makanan haram dan halal serta perbedaaan kebiasaan beribadah. Setiap orang tua asuh mendapat 2 sampai 3 anak. Kami pun dibagi dan sebagai pemenang hellofest saya mendapat teman satu orang tua asuh dari pemenang hellofest tahun sebelumnya. Fery Aryo Seto, anak Jakarta yang ternyata juga bekerja sebagai desainer grafis. Fery juga anggota band indie Sundae Sunday, saya kurang tahu aliran musiknya dia blum sempat bercerita soal bandnya.


Keluarga angkat kami tinggal di apartemen daerah stasiun MRT Kembangan. Anak mereka empat sudah menikah semua dan dikaruniai Sembilan cucu.

Pagi Harinya bapak mengajak kami jalan-jalan keliling kompleks apartemen, mengajari kami bagaimana cara naik MRT dan Bus. Mulai membeli tiket di mesin tiket sampai daerah tujuannya. Singapura begitu teratur, bersih dan tertib. Tidak ada tukang parkir disini, karena semua serba otomatis. Setiap mobil dilengkapi sim card yang berisi saldo untuk parkir mobil dan tilang. Setiap mobil juga dilengkapi dengan sensor, sehingga tidak perlu takut menabrak karena sensor akan berbunyi mengingatkan pengendaranya jika tidak berjalan dijalurnya.




Di Singapura jalanan begitu tertib bahkan jarang ada motor. Singapura memiliki system transportasi umum yang bagus. Sehingga masyarakat lebih memilih memakai transportasi umum untuk menjelajah kota. Karena wilayahnya yang memang kecil, cuma 3 hari saja munkin kita bisa keliling seluruh negara. dan keberadaan MRT cukup membantu untuk transportasi masyarakatnya

Negara kecil ini sering juga sering mengimport tanah dan pasir untuk membangun negaranya, banyak bangunan baru didirikan, bangunan-bangunan tersebut cenderung sarana wisata. Oiya Singapore juga sedang membangun sirkuit F1.
Bagi orang asing seperti kami tidak ada yang ditakutkan misalkan kesasar. Singapura begitu kecil, didukung dengan transportasi yang bagus dan tertib membuat kita Nyaman pergi kemanapun. Maka, Setelah kami sekeluarga keliling pulau Sentosa, saya dan fery meminta ijin untuk jalan-jalan sendiri keliling Singapore. Mereka pun mengijinkan kami karena mereka tahu kami bukan anak kecil lagi. Dengan berbekal peta, saya dan fery keliling Singapura sampai malam.



BLAKRAK-AN UCUL DHEWE WHOHOHAHAHA...






















Kembali Ke Negeri Sendiri
Keesokan harinya setelah sarapan kamipun menuju bandara. Seluruh peserta ICI sudah berkumpul dibandara. Semua telah akrab dengan keluarga masing-masing. Sebelum kami masuk boarding pass kami sempat bercakap-cakap berpamitan dengan orang tua kami dan tentu saja berfoto bersama.


Saya kaget ketika ibu menyalami saya dan ferry. Ibu memberi kami uang saku $15 dolar Singapore dengan mata yang tampak berkaca-kaca, tidak terlalu banyak tapi nilai keakrabannya sangat besar. Sebelumnya ketika kami berjalan-jalan di Bugis, ibu juga sempat membelikan saya kaos Green Day. Saya senang sekali karena Green day adalah salah satu band favorite saya waktu SMA dulu. Saya semakin kagum ketika saya mengucpkan salam perpisahan, cuma 2 malam kami menginap tapi ibu meneteskan air mata. Seperti difilm-film setelah melewati pemeriksaan di bandara, saya pun menoleh kearah keluarga dibalik dinding kaca. Saya melambaikan tangan dan mereka membalasnya. Terima kasih Bapak dan Ibu, Semoga suatu saat nanti saya bisa ke Singapore lagi. Semoga kita bisa bertemu dan tentunya dalam keadaan yang lebih baik . Saya tidak akan pernah melupakan semua ini.


............................
Sebenernya dalam hati saya agak miris, Negara kita sangat besar tapi memiliki ketertinggalan sangat jauh dengan Singapore. Mungkin ada yang berpendapat Negara Singapore jauh lebih kecil wilayahnya sehingga lebih mudah mengaturnya. Menurut saya bukan itu , tapi kesadaran dan pola pikir kita yang membuat kita berbeda. Saya yakin jika apa yang ada di Singapore diterapkan di Indonesia saat ini pasti tidak akan berjalan lancar dan bertahan lama. Kita seharusnya bersyukur dan memanfaatkan sumber daya alam kita lebih bijak. Kita memiliki banyak keindahan yang langsung dari alam yang seharusnya kita jaga,karena jika dibandingkan dengan Singapore, mereka susah payah berusaha menciptakan keindahan buatan dengan membangun gedung-gedung yang unik dan memanfaatkan keindahan lampu jika malam hari. Bahkan air dan tanah pun mereka import.
............................
Thanks to Hellofest Hellomotion, ICI CAMS Solution dan Seluruh jancokers GRAMMAR yang telah memilih GRAMMAR SUROBOYO 3 menjadi second people choice HELLOFEST 6

3 comments:

addo renardo said...

masuuuk, tapi kok duowoneee....

tikawe said...

Wuzz!! Aq gag dijak ik!

chapuccino said...

wah bagus cak..
ngiri pol...

heehe .. :D

berdoa semoga saya segera menyusul ke luar negeri aminnn...